Siswa SMK PGRI 1 Telagasari Ciptakan Generator Tenaga Surya Ramah Lingkungan

Oleh: Apriliyadi · Selasa, 19 November 2019 21.52 · 650

Bagikan

KARAWANG, KOMPAS.com - Tim Sangkuriang SMK PGRI 1 Telagasari menciptakan generator bertenaga surya dengan kekuatan 1300 watt. Generator ini bahkan diminati Bupati Aceh Barat lantaran dinilai cocok untuk wilayah yang belum teraliri listrik.

Alat ini menggunakan energi matahari atau solar cell sebagai pemantik awal. Panel surya bisa diletakkan di atas generator maupun atap rumah.

Generator tenaga surya ini mampu menghasilkan energi sebesar 1.300 watt dengan efisiensi 80 persen. Listrik sebesar itu bisa tersalur berkat panel surya berkekuatan 20 watt.

"Bisa untuk pemakaian lima lampu, TV, kulkas, dan kipas angin," kata Rohaeni, siswi jurusan Rekayasa Perangkat Lunak Industri ditemui Kompas.com di SMK PGRI 1 Telagasari, Senin (18/11/2019).

Pengecasan generator ini dilakukan selama dua hingga delapan jam. Alat ini bisa digunakan selama empat jam, untuk penggunaan seperti lampu, kulkas, dan mesin cuci.

Setelah itu generator harus dicas kembali sekitar 30 menit dan bisa digunakan empat jam berikutnya.

"Ini generasi keenam yang dibuat siswa-siswi kami," kata Yan Yan Sopiyan, Wakasek Hubungan Industri SMK PGRI Telagasari.

 

Menang aneka lomba

Yan Yan menyebut, pembuatan generator bertenaga surya ini digagas pada 2015 lalu untuk mengikuti Lomba Teknologi Tepat Guna tingkat kabupaten. Kemudian, dimodifikasi ulang pada 2017 untuk mengikuti Toyota Eco Youth.

"Pada lomba tersebut mereka menjadi juara satu tingkat nasional, kemudian memegang kesempatan best of the best," katanya.

Pada 2019 ini, generator ini dikembangkan kembali untuk persiapan lomba teknologi tepat guna ringkat provinsi di Sukabumi tiga bulan lalu dengan biaya Rp 5.000.000.

Kemudian dua bulan lalu alat ini dibawa ke Bengkulu untuk lomba teknologi tepat guna tingkat nasional.

Diminati Bupati Aceh Barat, terganjal hak cipta

Saat mengikuti Lomba Teknologi Tepat Guna di Bengkulu, generator ini diminati Bupati Aceh Barat.

Hanya saja, Tim Sangkuriang belum bisa memenuhi keinginan itu lantaran terganjal persoalan hak cipta. Meskipun, Yan Yan megakui rencana produksi masal digagas sejak 2017 lalu. Kendalanya sama, hak cipta.

"Kita ingin memperoleh hak cipta terlebih dulu, minimal terdaftar," katanya. Yan Yan mengungkapkan.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karawang memberikan apresiasi terhadap karya anak didiknya dengan membantu perolehan hak cipta.

 

Sumber: kompas.com



 

Bagikan

#PetuahPetuah

Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri.

R.A. Kartini