Anak Muda Kembangkan Potensi Daerah

Oleh: Muhamad Rai · Rabu, 3 Juni 2020 15.36 · 909

Bagikan

 

(Sumber: Dok.Pribadi/Kompas)

Geliat wirausaha di kalangan anak-anak muda membuat gemerlap kota tak lagi selalu menyilaukan mata. Saat ini, bertahan di kampung halaman untuk berkarya mulai jadi pilihan. Potensi daerah justru dilirik untuk dikembangkan oleh sejumlah anak muda secara mandiri.

Tawaran berkarier sebagai desainer di kota besar seperti Jakarta sebenarnya berdatangan pada Nia Faradiska dan Rania Aidid, lulusan SMK NU Banat Kudus, Jawa Tengah. Mereka yang lulus tahun 2018 ini punya segudang prestasi dalam dan luar negeri di bidang mode. Namun, Nia dan Rania yang kini belajar mode di Surabaya dengan beasiswa ini tetap bertekad mengembangkan dunia mode dari kampung halaman mereka di Kudus. Di acara live instagram @Peduli SMK bertajuk Anak Desa Go International, Rabu (20/5/2020), Rania berbagi kisah. Dia sedang menyiapkan dan segera meluncurkan usaha pakaian siap pakai dengan merk namanya. Usai lulus sekolah di tahun 2018, Rania bisa mandiri dengan membuka toko daring yang menawarkan jasa custom fashion. Selain itu, ia juga menjadi desainer di salah satu butik pakaian muslim di Kudus. “Aku mau punya usaha f ashion sendiri, dengan modal sendiri. Sudah terkumpul 50 persen modalnya dan lagi siapin koleksi pakaian sehari-hari yang siap pakai, yang nantinya juga dijual secara online,” tutur Rania yang pernah ikut fashion show di Hongkong saat sekolah. Rania bersyukur dirinya mantap sekolah di SMK bidang mode karena pilihan itu sesuai dengan minatnya.

 

(Sumber: Dok.Pribadi/Kompas)

(Nia Faradiska (keempat dari kiri) seusai menampilkan karya busana. Meski memiliki pengalaman di mancanegara, Nia memilih mengembangkan karya dari kampung halamannya di Kudus, Jawa Tengah (foto atas). Framtama Wahyu Ardhi pulang kampung ke Banyuwangi, Jawa Timur, untuk memproduksi Kopi Nyorot. Penjualan secara daring membuat sejumlah anak muda bergairah membuka usaha dari kampung halaman.)

Saat di bangku sekolah, Rania punya kesempatan untuk magang bersama desainer ternama di Jakarta dan ikut menggelar fashion show di berbagai kota. “Aku harus banyak belajar supaya tetap berkembang. Aku punya mimpi bisa mengembangkan usaha dari Kudus. Ini kompromi juga dengan orangtua yang enggak sreg aku tinggal sendiri di kota besar. Aku pikir di Kudus, aku tetap bisa mengembangkan usaha, nanti bisa membantu para tetangga yang kurang mampu untuk bisa bekerja bersama aku,” ujar Rania, sulung dari empat bersaudara ini. Tahun lalu, Rania sudah menampilkan koleksi pakaian premiumnya dengan brand Rania Aidid di ajang Muslim Fashion Festival 2019 di Jakarta. Ia berkesempatan menampilkan lima sesi (satu sesi terdiri dari tiga item pakaian). Koleksi pertamanya itu tak dijual. Namun, banyak yang tertarik untuk memesan. Bahkan, ada stasiun televisi yang memintanya untuk dipakai pembawa acara hiburan. “Sekarang, aku punya minat untuk mengembangkan usaha pakaian pengantin,” kata Rania. Keputusan untuk mengembangkan dunia mode dari Kudus juga diambil Nia Faradiska. Saat masih jadi siswa SMK NU Banat, dia sudah mengecap pengalaman ikut ke berbagai festival mode di mancanegara, seperti Hongkong, Taiwan, Singapura, dan Jepang, Nia memilih untuk berkarya dari kampung halamannya di Kudus. “Aku mimpi bisa go international dari Kudus sambil mau mendirikan sekolah f ashion di Kudus,” ujar Nia. Nia merasa bersyukur saat di SMK NU Banat yang didukung Djarum Foundation, para siswa sudah bertemu dengan mentor praktisi bidang mode, salah satunya Ali Charisma yang juga adalah National Chairman Indonesian Fashion Chamber.

“Aku terkesan dengan kisah Pak Ali Charisma, dia otodidak, namun bisa berkembang. Karyawannya banyak anak lulusan mode. Aku ingin  bisa go international juga meskipun berkarya dari kampung halaman,” kata Nia. Nia merintis jalan untuk bisa memiliki butik dan sekolah mode di Kudus. Masa pandemi Covid-19 jadi titik awal Nia dengan membuka kursus privat menjahit di rumahnya. “Kan, banyak tuh yang di rumah saja. Aku tawarin paket menjahit, bisa aku yang datang atau peserta ke rumah, ternyata diminati. Aku makin percaya diri untuk nanti membuat fashion school yang ada agensi model. Di Kudus belum ada,” ujar Nia yang memang hobi menggambar ini.

Di Banyuwangi, Jawa Timur, Framtama Wahyu Ardhi (32) memilih memproduksi kopi asli Banyuwangi. Pria yang akrab disapa Tama ini sempat bekerja di Surabaya selama empat tahun. Tama memilih kembali ke kampung halaman tahun 2018. Dia merasa perusahaan finansial tempatnya bekerja tak lagi menjanjikan. Tama ingat ayahnya suka membuat kopi, baik untuk diminum sendiri maupun pesanan terbatas. Namun, kopi yang dibuat dicampur dengan bahan lain seperti beras atau jagung. Tama ingin menghasilkan kopi murni dari hasil petani kopi di Gombeng, Banyuwangi. “Saya kerja sama dengan ayah untuk membuat kopi. Saya bisa dapat mesin kopi untuk UMKM yang harganya waktu itu Rp 10 juta.

Tiap minggu, saya buat kopi 15 kilogram. Namanya saya pilih Nyorot Kopi,” jelas Tama. Penjualan secara online lewat Instagram #Nyorotkopi maupan WhatsApp datang dari Banyuwangi, Jakarta, dan Bandung. Kopi Nyorot yang laris, utamanya kopi lanang yang dijual Rp 60.000 dan kopi Excelsa (rasa khas seperti buah nangka) Rp 45.000 untuk ukuran 250 gram. Ada pilihan kopi lain yakni kopi murni, kopi house blend, kopi robusta honey, kopi jahe. “Produksinya masih skala UKM karena peralatannya masih sederhana. Sambil terus ngum - pulin modal nih untuk bisa punya tempat display sendiri di pinggir jalan. Soalnya banyak juga pembeli yang tertarik datang dan ingin melihat prosesnya. Ada yang datang ke rumah pesan kopi sambil melihat pengolahannya,” tutur bapak dua anak ini. Tama punya mimpi supaya kopi asli Banyuwangi yang ditanam di bawah kaki Gunung Ijen bisa lebih dikenal.

Seperti Kopi Gayo dari Aceh yang sudah terkenal. Tama belajar mengolah kopi secara otodidak dan sering mengikuti workshop yang digelar pegiat kopi di Banyuwangi. Kini, dia tertarik ingin mendalami pengolahan kopi Kintamani di Bali. Dia juga ingin belajar untuk mengembangkan jaringan pemasaran kopi yang lebih luas. “Pembeli suka bertanya ada kopi apa saja selain Banyuwangi. Ini membuat saya terpikir untuk menyediakan kopi jenis lain. Perlahan saya ingin terus mengembangkan usaha kopi supaya bisa membuka lapangan kerja di Banyuwangi,” ucap Tama. Melirik batik untuk dikembangkan sesuai potensi daerah tempat tinggal juga dijalani saudara kembar Aulia Ristya Purnama dan Aulia Ristya Purnami (31). Mereka sempat bekerja sebagai karyawan di Jakarta.

Namun, sejak tahun 2013 memilih untuk fokus mengembangkan batik motif khas Bekasi dengan nama Adelia Batik. Perempuan yang akrab disapa Lia dan Ade ini menguasai cara membatik dan mewarnai batik tulis dengan kualitas baik. Mereka belajar ke beberapa pusat pengolahan batik hingga bisa menemukan cara yang pas untuk mengembangkan motif khas Bekasi. Kekhasan Adelia Batik, mereka bisa menerima pesanan customize batik dengan gambar sesuai minat pembeli karena pola batik dibuat dengan memanfaatkan mesin CNC yang dimodifikasi untuk batik yang bernama Kelowong . “Kami tetap mengembangkan motif khas Bekasi dari rumah di Kelurahan Perwira. Soalnya, di sini para pekerjanya para ibu rumah tangga. Batik tulis motif Bekasi ini sudah dibawa hingga ke Belanda, bahkan juga diikutkan di ajang Indonesia Fashion Week,” jelas Ade. Semangat anak-anak muda untuk berkarya dari kampung halaman tempat mereka tinggal memberi harapan untuk kemajuan daerah. Kemajuan teknologi membuat anak-anak muda kembali melirik potensi daerah mereka masing-masing.

(Sumber: Ester Lince Napitupulu/Kompas)

Bagikan

#PetuahPetuah

Semakin tinggi ilmu seseorang, maka semakin besar rasa toleransinya.

Abdurrahman Wahid (Gus Dur)